<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK &#187; sirojul mukhlasin</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/tag/sirojul-mukhlasin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 03:35:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tour de Jateng: Tersesat</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/05/08/tour-de-jateng-tersesat/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/05/08/tour-de-jateng-tersesat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 06:55:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[militan]]></category>
		<category><![CDATA[payaman]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[sirojul mukhlasin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Hari telah menjelang sore. Pesantren yang akan dituju di daerah Magelang masih tersisa 4. Target menyelesaikan kunjungan di Magelang sebelum Isya sepertinya tidak akan tercapai. Aku dan Rahmawan-pun terlibat dalam diskusi; apakah akan menginap di Magelang atau pulang ke Jogja. Sambil berdiskusi, kami tetap mengarahkan pandangan ke sepanjang jalan di daerah Payaman Kabupaten Magelang tersebut. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F05%2F08%2Ftour-de-jateng-tersesat%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Hari telah menjelang sore. Pesantren yang akan dituju di daerah Magelang masih tersisa 4. Target menyelesaikan kunjungan di Magelang sebelum Isya sepertinya tidak akan tercapai. Aku dan Rahmawan-pun terlibat dalam diskusi; apakah akan menginap di Magelang atau pulang ke Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil berdiskusi, kami tetap mengarahkan pandangan ke sepanjang jalan di daerah Payaman Kabupaten Magelang tersebut. Karena kami akan menuju sebuah pesantren yang bernama Sirojul Mukhlasin. Setelah agak lama mencari, tiba-tiba mata kami tertumpu pada sebuah papan nama di pinggir jalan: &#8220;PESANTREN DAKWAH SIROJUL MUKHLASIN (PAYAMAN II)&#8221;.<span id="more-68"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dengan penuh keyakinan, kamipun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh papan nama. Dari jalan raya Magelang-Semarang, kami belok kanan, memasuki jalan desa Grabag. Sejurus kemudian, ada tanda lagi yang menunjukkan kalau kami harus belok kanan. Kamipun mengikutinya. Jalan yang ditempuh mulai mengecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah agak lama mencari, kamipun menemukan petunjuk arah lagi. Kami harus belok kiri. Jalan yang harus ditempuh berupa jalan tanah yang cukup keras dan bersih. Kiri kanan jalan dihiasi pagar tanaman yang cukup tinggi, melebihi tinggi mobil pick-up yang kami bawa, sehingga kami tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di balik pagar tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hanya dalam hitungan menit, kamipun memasuki area pesantren. Sontak kami sangat terkejut dengan suasana di pesantren itu. Bayangan suasana pesantren modern sebagaimana layaknya pondok alumni Gontor lainnya, sangatlah jauh dari kondisi di tempat itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penghuni pesantren itu semuanya mengenakan pakaian ala wali tempo dulu; peci yang dililit sorban, gamis dan sarung yang menggantung di atas mata kaki dan tak ketinggalan jenggot yang dibiarkan memanjang serta kumis yang dicukur habis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika memasuki area itu, para santri sedang belajar berkelompok (<em>halaqah</em>) di sebuah gedung berbentuk aula. Masing-masing kelompok belajar dengan semangat dan antusiasme tinggi. Karena masing-masing kelompok belajar sambil meneriakkan secara koor apa yang mereka baca, maka cukup sulit bagiku untuk menyimak apa yang sedang dipelajari. Tapi, paling tidak ada satu kalimat yang dapat kutangkap dengan jelas, yaitu kalimat ALLAHU AKBAR</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kehadiran kami cukup menyita perhatian mereka. Sepertinya semua mata tertuju pada kami. Areal pesantren itu memang tidak cukup luas. Mungkin sekitar 2000 meter. Sehingga, setiap kejadian apapun dapat dilihat dengan jelas oleh setiap penghuni di situ, termasuk keberadaan kami yang jelas berbeda sekali secara penampilan dengan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Akupun mencoba untuk tenang, meski di hati ini ada sedikit kekhawatiran. Khawatir kalau-kalau tempat ini adalah tempat penggemblengan para militan yang siap melakukan apa saja dan bahkan mengorbankan apa saja, termasuk nyawa mereka, untuk membela keyakinan yang mereka miliki.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Singkat cerita, kamipun berhasil bertemu dengan pimpinan mereka. Setelah bercerita panjang lebar soal kedatangan kami, barulah kami mengerti kalau kami salah alamat. Pesantren yang kami tuju sebenarnya adalah pesantren yang satu lagi yang memang bernama sama. Yang kami tuju seharusnya adalah PP. Sirajul Mukhlasin sementara yang ini bernama Sirajul Mukhlasin Payaman II. Posisi pesantren yang seharusnya kami tuju tidaklah jauh dari situ.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah beramah-tamah sebentar, kamipun pamit. Begitu lepas dari area pesantren itu, pak sopir kami langsung mengambil nafas dalam-dalam dan segera menghembuskannya dengan ekspresi lega. Sontak aku bertanya, &#8220;Lho, kenapa Pak?&#8221;. &#8220;Lega rasanya Mas, seperti baru keluar dari sarang penyamun!&#8221;, begitu pengakuan polosnya. &#8220;Memangnya apa yang ada dalam pikiran Bapak tadi?&#8221;, lanjutku. &#8220;Saya khawatir aja, takut dikeroyok kalau ada sikap kita yang salah, kan mereka mau aja nyerang siapa yang tidak mereka sukai&#8221;, akunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku dan Rahmawan hanya terdiam mendengar pengakuan polos dari Pak Sopir tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa buruknya citra saudara-saudaraku yang berpakaian seperti itu. Toh belum tentu mereka seperti yang dipikirkan oleh Pak Sopir tadi itu. Tapi pikiran Pak Sopir itu tidak bisa disalahkan. Sebagai masyarakat awam, pencitraan buruk terhadap ikhwan dengan kostum begitu sudah sangat kuat dalam memorinya. Hal ini dapat kupahami, karena begitu banyaknya kejadian terorisme di dunia ini yang dilakukan oleh kelompok Islam garis keras yang biasanya berpakaian seperti mereka tadi. Ditambah lagi sikap anarkisme yang dilakukan oleh para pengusung jihad di negara ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurut pengakuan Kyai Anshori, pengasuh PP. Sirajul Mukhlasin yang seharusnya kami tuju, kegiatan di Payaman II itu tidak ada unsur politik sama sekali. Mereka murni mendalami agama (<em>tafaqquh fiddin</em>, dalam istilah mereka) untuk kemudian berdakwah dengan cara berkelana (<em>jawlah</em>) dari masjid ke masjid. Memang tidak sedikit kecurigaan dialamatkan kepada mereka sebagai gerakan militansi. Bahkan pihak intelejenpun sudah sering menyambangi mereka. Dan ternyata, kecurigaan itu sama sekali tidak terbukti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pak Kyai Anshori menyebutkan beberapa nama petinggi kepolisian dan pemerintahan di Magelang yang sering menghabiskan akhir pekan mereka dengan &#8220;nyantri&#8221; di situ. Aku jadi semakin penasaran. Semenarik apakah kajian di pesantren itu, sehingga para petinggi itupun mau nyantri di sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jadi ingin mencoba &#8220;nyantri&#8221; akhir pekan di sana&#8230; Hayooo&#8230; siapa mau ikut&#8230;?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/05/08/tour-de-jateng-tersesat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
