<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK &#187; tafsir</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/tag/tafsir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 03:35:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>nyontek?</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/05/23/nyontek/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/05/23/nyontek/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 01:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[contek]]></category>
		<category><![CDATA[hadis]]></category>
		<category><![CDATA[iain imam bonjol]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>
		<category><![CDATA[ushuluddin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=674</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya tulisan ini adalah komentarku di blognya Uni Marshmallow tentang budaya mencontek di dunia pendidikan kita. Tapi karena kepanjangan, maka kupikir, ada baiknya dijadikan postingan tersendiri. Lumayanlah, buat nambah-nambah jumlah postingan, hehehe&#8230; Ceritanya terjadi ketika aku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku mengikuti ujian semester. Matakuliah yang akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F05%2F23%2Fnyontek%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Awalnya tulisan ini adalah komentarku di blognya <a href="http://hemmayulfi.blogspot.com/2009/05/ujiana.html">Uni Marshmallow</a> tentang budaya mencontek di dunia pendidikan kita. Tapi karena kepanjangan, maka kupikir, ada baiknya dijadikan postingan tersendiri. Lumayanlah, buat nambah-nambah jumlah postingan, hehehe&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Ceritanya terjadi ketika aku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku mengikuti ujian semester. Matakuliah yang akan diujikan hari itu lumayan berat, yakni Tafsir al-Qur&#8217;an, matakuliah pokok bagi kami yang mengambil jurusan Tafsir Hadis di Fakultas Ushuluddin. Matakuliah ini menjadi berat, karena harus berhadapan dengan Bahasa Arab sebagai bahasa pokoknya, dan juga berbagai metodologi penafsiran; tradisional maupun kontemporer, ditambah lagi dengan setumpuk ayat yang harus kami hafal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan penuh percaya diri, akupun memasuki ruangan ujian. Aku mendapat tempat duduk di baris ketiga dari depan. Lembar soal dan jawaban dibagikan. Aku mulai menjawab satu persatu soal yang diberikan dengan penuh konsentrasi. Dua orang pengawas mondar-mandir. Beberapa saat kemudian mereka mulai kehilangan konsentrasi. Mungkin karena bosan, merekapun ngobrol sambil berbisik-bisik.<span id="more-674"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bisik-bisik mereka ini mulai mengganggu konsentrasi kami. Betapa tidak? Salah seorang dari pengawas itu memiliki suara yang lumayan besar dan berat. Meski berbisik, tetap saja kedengarannya dia setengah berteriak. Aku mulai kesal!</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali-dua, tidak ada reaksi atas bisik-bisik pengawas tersebut. Sampai pada saat mereka mulai tertawa terbahak-bahak, aku sudah tidak bisa menahan emosi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">&#8220;Pak!&#8221;</span>, seruku sambil mengacungkan tangan kananku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#339966;">&#8220;Ya, ada apa?&#8221;</span>, sahut si pengawas.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">&#8220;Tolong kalau ngobrol di luar saja, kami terganggu nih!&#8221;</span>, ujarku dengan sedikit keras.</p>
<p style="text-align:justify;">Deng&#8230;! aku lihat rona muka si pengawas bersuara berat itu berubah. Tapi, dia tidak bisa bereaksi apa-apa. Hanya diam. Toh, memang itu salahnya. Bukankah dia dibayar untuk mengawasi, bukan untuk ngobrol, he?  <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Kulihat senyuman kemenangan di wajah teman-teman sekelas, seolah mereka menyepakati apa yang telah aku lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak detik itu, mata si pengawas tidak pernah lepas dariku. Aku bisa melihat itu dengan jelas dari sudut mataku. Dendam rupanya dia! Setiap gerikku dia perhatikan dengan seksama. Sepertinya dia sangat berharap aku melakukan sebuah kesalahan dan dia bisa membalaskan dendamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Benar saja. Harapannya terpenuhi dengan sukses!</p>
<p style="text-align:justify;">Temanku yang duduk persis di belakangku memanggil. Dia ingin meminjam <em>tip-ex</em> milikku. Dengan spontan kuberikan. Tapi karena kurang hati-hati, <em>tip-ex</em> itu jatuh. Aku ambil, dan berikan kepadanya sambil mengucapkan kata maaf.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa menunggu lama, tiba-tiba sebuah suara besar lagi berat menggema dan memecahkan keheningan ruangan ujian kami.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;">&#8220;Hei, kamu, ngapain!!??&#8221;</span>, si pengawas tadi berteriak sambil menunjuk kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">&#8220;Ini pak, memberikan <em>tip-ex</em> ke teman&#8221;</span>, jawabku dengan sedikit gelagapan karena kaget.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;">&#8220;Halah, alasan! Kamu nyontek ya!!??&#8221;</span>, si pengawas mencoba menuduhku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak terima dengan tuduhannya itu, akupun bangkit dari tempat duduk. Tak kalah kerasnya, akupun berteriak, <span style="color:#ff6600;">&#8220;Nyontek!!?? Sorry lah Pak&#8230;!!! Nih lembar jawaban saya, sudah selesai kok..!!!&#8221;,</span> akupun menyerahkannya tanpa harus menunggu bel tanda ujian usai. Si Pengawas terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Keluar dari ruang ujian, aku senyum-senyum sendiri. Aih&#8230; benar-benar aneh pengawasku itu. Sejak saat itu, setiap kali bertemu dengannya, dia selalu berusaha menghindar dariku&#8230; Hehehe&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/05/23/nyontek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku lagi, buku lagi&#8230;</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/08/21/buku-lagi-buku-lagi/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/08/21/buku-lagi-buku-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 01:26:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[duri]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan kumpul 1000 buku]]></category>
		<category><![CDATA[hadis]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[kitab]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pa, beliin Afif komik Conan 51, please&#8230;.&#8221;, demikian rengek anak sulungku. Hampir tiap hari rengekan itu keluar dari mulut si Abang ini. Aku dan istri sampai capek mendengarnya. Sebenarnya bukan tidak mau membelikannya, tapi karena rute yang kulalui setiap hari berjauhan dengan toko buku Gramedia. Sehingga kalau mau ke sana harus benar-benar menyengajakan diri. Maka, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F08%2F21%2Fbuku-lagi-buku-lagi%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Pa, beliin Afif komik <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Detektif_Conan">Conan 51</a>, please&#8230;.&#8221;, demikian rengek anak sulungku. Hampir tiap hari rengekan itu keluar dari mulut si Abang ini. Aku dan istri sampai capek mendengarnya. Sebenarnya bukan tidak mau membelikannya, tapi karena rute yang kulalui setiap hari berjauhan dengan toko buku <a href="http://www.gramediabooks.com/">Gramedia</a>. Sehingga kalau mau ke sana harus benar-benar menyengajakan diri. Maka, setiap kali rengekannya itu pecah lagi, aku jawab, &#8220;Insya Allah, hari Minggu besok ya&#8221;.<span id="more-131"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, kemarin buku itu berhasil aku belikan. Bahagia sekali melihat ekspresinya ketika menerima buku itu. Dia meloncat kegirangan, seperti anak kecil mendapatkan permen, padahal dia kan sudah remaja&#8230; Duh&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Terbersit doa, semoga buku-buku itu akan memberi <a href="http://blog.abepoetra.com/?p=223">manfaat</a> untuknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat tingkah si Abang ini, aku jadi ingat masa kecil. Aku juga seperti dirinya; gila buku!</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu, di kota kecilku Duri (Riau), masih sangat sulit mendapatkan buku-buku dan majalah kegemaran. Ketika itu, aku suka sekali dengan buku-bukunya Enid Blyton, Hc Anderson dan majalah-majalah anak-anak seperti Bobo, Tomtom, si Kuncung, Kawanku, dll. Majalah-majalah itu sangat cepat kulahap begitu sampai di tangan. Aku bahkan tidak sabaran menunggu hari terbitnya majalah-majalah tersebut. Dua atau satu hari menjelang majalah itu terbit, aku sudah mengunjungi toko majalah langganan. Si Abang Majalah, begitu aku menyebut pemilik warung majalah itu dulu, sudah sangat hafal dengan kebiasaanku itu. Makanya, setiap kali aku sudah kelihatan tidak sabar menunggu keesokan hari, dia akan menawarkan beberapa komik atau novel terbaru. Dan, ini akan jadi &#8220;bencana&#8221; buat Bapakku. Sudah pasti aku akan merengek meminta dibelikan buku-buku tersebut. Kalimat yang muncul dari mulut para pegawai rumah makan beliau waktu itu adalah: &#8220;Buku lagi, buku lagi&#8230;.&#8221; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Aku bersyukur, ternyata Bapak tidak perhitungan dengan permintaanku untuk dibelikan buku. Itu berlanjut sampai aku kuliah. Dan yang paling membuat terharu adalah ketika beliau berangkat haji bersama Ibu. Memang sudah menjadi kebiasaanku selalu menitipkan untuk dibelikan buku-buku kepada saudara-saudara yang berangkat haji. Aku minta mereka membelikan buku-buku teks berbahasa Arab yang sangat kubutuhkan dalam perkuliahanku di jurusan Tafsir Hadis.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika giliran Bapak dan Ibu berangkat haji di tahun 1998, akupun menitipkan 6 judul buku. Nomor urut adalah menunjukkan prioritas. Bila buku di nomer pertama tidak ditemukan, maka buku di urutan kedua adalah prioritas berikutnya. Bila keenamnya tidak ditemukan, maka aku berpesan untuk tidak usah membelikan sama sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah beliau kembali ke tanah air, aku terkejut luar biasa. Betapa tidak, keenam judul buku yang dititipkan itu ternyata dibeli semua. <em>Subhanallah!</em> Aku benar-benar terharu, karena seluruhnya berjumlah 92 buah buku (kitab), karena masing-masing judul ada yang terdiri dari 10 jilid, 12 jilid dan bahkan ada yang 24 jilid. Tak terbayangkan betapa beratnya perjuangan beliau membeli buku-buku itu dan membawanya pulang ke tanah air.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang membuat lebih terharu adalah, ternyata beliau tidak membeli oleh-oleh apapun selain buku-buku itu. Aku jadi tidak enak pada adik-adik dan keluarga yang lain, sepertinya beliau hanya mementingkan aku saja. Tapi, ungkapan bijak dari beliau menjadi pengobatnya: &#8220;Kalau barang Papa belikan, dua atau tiga bulan akan rusak, tapi kalau buku Papa belikan, dia akan abadi dalam diri kalian&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah, ungkapan itu sampai saat ini senantiasa menjadi penyemangat. Sehingga akupun menularkannya kepada anak-anakku. Aku mungkin tidak akan bisa mewariskan harta yang banyak buat mereka, mudah-mudahan dengan buku dan ilmu mereka bisa hidup menjadi orang berguna kelak.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sangat mendukung gerakan 1000 buku. Mudah-mudahan anda juga, silahkan kunjungi situsnya [<a href="http://1000buku.dagdigdug.com/">disini</a>]</p>
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border:none;background:transparent;" src="http://signatures.mylivesignature.com/54486/280/9DF7C88CB6AC231ABE4DB1E046019027.png" alt="" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/08/21/buku-lagi-buku-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
