<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK &#187; yogyakarta</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/tag/yogyakarta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 03:58:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>they did it..!</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/01/04/they-did-it/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/01/04/they-did-it/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 04:44:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[lontong]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pakualaman]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1393</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, Senin 4 januari 2010, hari pertama dalam minggu pertama di tahun yang baru, aku disuguhi sebuah pengalaman yang tidak mengenakkan. Sebuah kejadian yang patut direnungi oleh kita semua, sebagai bangsa timur yang memiliki budaya ewuh pakewuh; tahu diri, malu, sopan santun. Sebelum berangkat ke kampus, aku mampir dulu untuk sarapan lontong sayur Sumatera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F01%2F04%2Fthey-did-it%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, Senin 4 januari 2010, hari pertama dalam minggu pertama di tahun yang baru, aku disuguhi sebuah pengalaman yang tidak mengenakkan. Sebuah kejadian yang patut direnungi oleh kita semua, sebagai bangsa timur yang memiliki budaya <em>ewuh pakewuh</em>; tahu diri, malu, sopan santun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum berangkat ke kampus, aku mampir dulu untuk sarapan lontong sayur Sumatera langgananku di pelataran parkir Pakualaman. Lontong sayur itu sebetulnya tidaklah begitu aduhai rasanya bila dibanding dengan lontong sayur Tek Yan di kampungku, tapi setidaknya keberadaannya cukup berhasil memenuhi rasa kangenku akan masakan khas Minang.</p>
<p style="text-align: justify;">Di pelataran Pakualaman tersebut terdapat beberapa pedagang kuliner lainnya; ada bakso, soto, siomay, rujak es krim, dll. Beberapa waktu yang lalu, tempat itu telah direnofasi, sehingga lebih tertata rapi dan membuat suasana makan menjadi lebih nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memesan satu piring lontong tanpa telur plus <em>karupuak lado</em>, aku pun mengedarkan pandangan, mencari tempat duduk yang nyaman. Mataku pun tertumpu pada sebuah meja yang terletak agak di sudut.<span id="more-1393"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sejurus kemudian, pesananku pun datang. Dengan sedikit bersemangat, lontong itu sedikit demi sedikit kulahap. Persis pada sendokan kelima, aku mendengar suara tawa manusia yang cukup mengganggu. Kuperhatikan sekejap. Ternyata, sepasang remaja yang sedang bercanda mesra. Posisi dudukku yang ternyata berhadapan dengan mereka&#8211;meski beda meja&#8211;membuatku dapat melihat setiap gerakan mereka dengan jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya aku tidak terlalu peduli. Tapi, lama kelamaan tingkah mereka mulai membuatku kesal. Kemesraan yang mereka pertontonkan sudah mulai di luar batas menurutku. Mulai dari cubit-cubitan, suap-suapan, menggelayut mesra, sampai akhirnya sebuah adegan yang tak layak mereka lakukan&#8230; Mereka berciuman bibir..!!</p>
<p style="text-align: justify;">Astaghfirullah&#8230;! Aku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku. Tak kusangka, di bumi Yogyakarta yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya ini, aku melihat tingkah remaja yang tak pantas. Aku akui kalau gaya berpacaran remaja saat ini sudah mewajarkan tindakan itu. Tapi, melakukannya di tempat umum dan terbuka, apakah juga sudah dianggap wajar?</p>
<p style="text-align: justify;">Oh tidak, aku tetap tidak dapat menerima itu sebagai sebuah kewajaran. Tidak untuk hari ini dan juga tidak untuk hari-hari ke depan. Bukan karena aku sok moralis. Tapi, ini berkaitan dengan harga diri bangsaku, bangsa yang berbudaya dan beragama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas, apa yang kulakukan terhadap mereka? Tidak ada..! Kecuali segera kuberdiri dengan kasar, meninggalkan makananku yang masih tersisa banyak begitu saja, membayar di kasir, dan buru-buru meninggalkan tempat itu, karena aku mau muntah&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/01/04/they-did-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>hijrah</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/12/17/hijrah/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/12/17/hijrah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 16:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[duri]]></category>
		<category><![CDATA[hijriyah]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[pekanbaru]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru islam]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Hijrah, secara fisik bermakna perpindahan seseorang dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan tertentu. Sementara secara maknawi, hijrah bermakna perpindahan seseorang dari sikap yang tidak baik menjadi lebih baik. Aku telah mengalami beberapa kali hijrah secara fisik. Pertama, di tahun 1985, setamat dari sekolah dasar, aku hijrah dari tanah kelahiranku, Duri-Riau, menuju desa Gontor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F12%2F17%2Fhijrah%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Hijrah, secara fisik bermakna perpindahan seseorang dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan tertentu. Sementara secara maknawi, hijrah bermakna perpindahan seseorang dari sikap yang tidak baik menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku telah mengalami beberapa kali hijrah secara fisik. Pertama, di tahun 1985, setamat dari sekolah dasar, aku hijrah dari tanah kelahiranku, Duri-Riau, menuju desa Gontor di Ponorogo Jawa Timur. Selama enam tahun aku berada di sana. Berbagai pengalaman dan pengetahuan telah kureguk, dan itu telah berhasil memberi pengaruh sangat besar dalam hidupku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, pada tahun 1992, aku hijrah ke kota Padang. Karena kecewa tidak dapat melanjutkan kuliah ke Mesir, akupun memilih untuk kuliah di kampung halaman leluhurku itu. Terbersit sebuah niat di hati untuk belajar bersungguh-sungguh demi membuktikan kepada khalayak bahwa lulusan dalam negeri tetap dapat bersaing dengan lulusan luar negeri. Apakah sekarang aku sudah dapat membuktikannya? Entahlah, yang pasti, saat ini aku sangat bersyukur karena dengan kuliah di kota Padang membuatku tidak buta sama sekali dengan adat budaya asalku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, pada tahun 1997, aku hijrah ke kota Pekanbaru. Beasiswa S2 di IAIN Sulthan Syarif Qasim telah mengantarku ke kota itu. Meski aku lahir dan dibesarkan di kota Duri yang berjarak hanya 4 jam perjalanan ke kota Pekanbaru, tapi pengetahuanku akan ibukota propinsi Riau tersebut sangatlah minim. Ketika mulai menginjakkan kaki di kota tersebut, aku cetuskan niat untuk menggali sebanyaknya pengetahuan dan pergaulan di situ. Dan, alhamdulillah, niatan itupun tercapai. Sebuah kampung bernama Limbungan di Rumbai telah menjadi kampung keduaku. Warga di situ telah berhasil memberi makna berarti bagi kehidupanku dan keluarga. Kampung itu, telah sangat identik dengan kami.<span id="more-1279"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 2004, aku hijrah untuk yang keempat kalinya. Yogyakarta adalah kota tujuanku. Banyak sahabat dan sejawat yang mempertanyakan mengapa aku memilih kota itu sebagai tempat kuliah S3-ku? Jawabku adalah karena aku sangat yakin bahwa Yogyakarta akan memberiku banyak pengalaman dan ruang belajar yang tidak sedikit. Aku sangat tertarik dengan keramahan dan kreatifitas warganya. Kelebihan mereka itu, ingin kupelajari dan kujadikan bagian tak terpisahkan dari diriku. Alhamdulillah, niatan itupun tercapai. Di samping aku beroleh ilmu pengetahuan secara teoritis dari kampus, aku juga beroleh pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa dari masyarakat. Kweni adalah kampung yang telah kuanggap sebagai &#8220;kampus terbuka&#8221; bagi diriku. Darinya aku belajar banyak hal; soal ketulusan, kesabaran dan toleransi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hijrah yang kulalui selama ini adalah sebuah perjalanan dalam rangka menuntut ilmu dan menambah pengalaman. Segala niat yang kucetuskan di setiap awal perjalanan itu, akhirnya terwujud dan berhasil kudapatkan. Aku jadi teringat dengan sabda Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadis beliau: <em>&#8220;Sesungguhnya, amal perbuatan seseorang itu tergantung kepada niatnya, dan ia akan beroleh balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya&#8221;.</em> Hal ini menunjukkan bahwa baik-buruk yang kita peroleh dari hijrah kita, tergantung dari apa tujuan yang kita tanam sebelumnya. <em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini, umat Islam di seluruh dunia menyambut tahun baru Islam. Penanggalan ala Islam ini diberi nama Hijriyah, sebagai pengingat akan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Hijrah yang dilakukan itu telah memberi kemajuan yang luar biasa dalam kehidupan beliau. Masyarakat Madinah dapat menerima beliau dengan tangan terbuka. Bahkan akhirnya, beliau pun dipercaya sebagai pemimpin negara ketika itu. Hijrah yang beliau lakukan telah membuahkan hasil positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, sempena peringatan TAHUN BARU ISLAM 1431 HIJRIYAH, adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungi kembali, seberapa baikkah niat kita dalam &#8220;berhijrah&#8221;? Apakah hijrah yang kita lakukan adalah dalam rangka memperluas keburukan yang kita miliki, ataukah untuk memperbaikinya? Semuanya, ada dalam hati kita&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Lanjutan dari hadis Nabi di atas adalah: <em>&#8220;Barangsiapa yang niat hijrahnya karena Allah, ia akan memperoleh ridha-Nya, dan barangsiapa yang niat hijrahnya karena dunianya, maka ia akan beroleh dunia itu&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">So, mari kita luruska niat dalam berhijrah&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">SELAMAT TAHUN BARU ISLAM<br />
1431 HIJRIYAH</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/12/17/hijrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sumbar dan yogya</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/10/01/sumbar-dan-yogya/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/10/01/sumbar-dan-yogya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 01:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Sumatera Barat (Sumbar) dan Yogyakarta adalah dua daerah yang mendapatkan tempat khusus di hatiku. Sumbar adalah daerah asal keluarga besarku dan Yogyakarta adalah tempat aku tinggal sekarang ini. Entah kenapa, begitu banyak kesamaan antara kedua daerah ini. Di antaranya, budaya. Kedua daerah ini sangat terkenal dengan adat-budaya yang kental. Sumbar dengan adat Minangkabau-nya dan Yogyakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F10%2F01%2Fsumbar-dan-yogya%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Sumatera Barat (Sumbar) dan Yogyakarta adalah dua daerah yang mendapatkan tempat khusus di hatiku. Sumbar adalah daerah asal keluarga besarku dan Yogyakarta adalah tempat aku tinggal sekarang ini. Entah kenapa, begitu banyak kesamaan antara kedua daerah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antaranya, budaya. Kedua daerah ini sangat terkenal dengan adat-budaya yang kental. Sumbar dengan adat Minangkabau-nya dan Yogyakarta dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kedua budaya ini begitu kental dan cukup memberi identitas tersendiri bagi Indonesia. Dari segi alam, kedua daerah ini juga memiliki kesamaan. Sumbar terkenal dengan pantai dan gunungnya, Yogyakarta-pun demikian. Bahkan, gunung yang ada di kedua daerah itu pun memiliki nama yang sama, yakni Merapi. Satu lagi contoh kesamaannya adalah nomor polisi kendaraan bermotor. Di Sumbar, menggunakan &#8220;BA&#8221;, sementara Yogyakarta menggunakan &#8220;AB&#8221;. Sebuah kesamaan yang bukan kebetulan sepertinya bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi kesamaan yang sulit untuk dinalar adalah musibah gempa. <a href="http://hardivizon.com/2009/05/27/untuk-dikenang/"><strong>Yogyakarta dilanda gempa pada 27 Mei 2006 silam</strong></a>. Meluluhlantakkan daerah itu. Banyak korban yang berjatuhan, lebih kurang 6000 jiwa melayang. Dan, kemarin, 30 September 2009, Sumbar-pun dilanda gempa yang sama. Kerusakan yang ditimbulkan sangat parah. Menurut informasi, <strong><a href="http://www.detiknews.com/read/2009/09/30/231028/1212307/10/kerusakan-setara-gempa-yogyakarta">kerusakan gempa Sumbar sama dengan kerusakan gempa Yogyakarta</a>.</strong> Lagi-lagi kedua daerah ini memiliki kesamaan, yang dalam hal ini adalah kesamaan nasib.</p>
<p style="text-align: justify;">Gempa Sumbar yang terjadi sore kemarin itu cukup membuat kami sekeluarga shock. Betapa tidak? Keluarga besar kami berada di daerah itu, termasuk Ibu mertua yang berada di Payakumbuh. Di Padang dan Pariaman sebagai pusat gempa sendiri, ada kakak dan adik sepupu yang tinggal di sana. Sedari berita soal gempa itu dilansir media, kamipun melakukan kontak tiada henti. Namun, tak satupun yang tersambung. Sahabat semasa kuliah aku juga coba hubungi, juga sama sekali tidak tersambung. Dan, sahabat blogger Imoe pun kucoba untuk mengontaknya. Sama sekali tidak ada sambungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai malam menjelang, kami tidak lepas dari televisi. Menonton setiap update berita sambil tetap mencoba menghubungi sanak keluarga. Yang semakin membuat kegelisahanku memuncak adalah telepon ke Riau-pun sangat sulit untuk tersambung. Akhirnya, hanya media internet-lah yang bisa menjadi andalan, terutama facebook. Ada seorang teman yang berada di Padang yang bisa update status facebook-nya. Tapi hanya sekali, setelah itu dia menghilang. Kemungkinan besar dia telah kehilangan koneksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegelisahan yang kualami ini, yang disebabkan oleh ketidakjelasan kabar tentang sanak saudara di daerah bencana, tentulah kegelisahan yang sama dirasakan oleh mereka ketika gempa Yogya tiga tahun yang lalu. Dapat kubayangkan betapa gelisahnya mereka selama beberapa hari, karena tidak bisa menghubungiku. Argh&#8230; kegelisahan ini benar-benar menyiksaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, aku hanya bisa berdoa dan berdoa untuk mereka semua. Aku yakin, semua ini akan ada maknanya bagi bangsa ini. Ujian bagi kita yang tidak tertimpa musibah ini secara langsung sudah dimulai, terutama bagi Pemerintah. Kita lihat saja, apakah mereka lebih mementingkan gengsi pesta pora <a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/09/08/12124954/untuk.pelantikan.dpr.kpu.anggarkan.rp.11.miliar">pelantikan anggota DPR dengan dana milyaran rupiah</a> itu, atau mau sedikit &#8220;mengalah&#8221;, dengan mengikhlaskan dana itu untuk penanganan korban. Kita lihat saja nanti&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Buat <a href="http://imoe.wordpress.com/">Imoe</a>, <a href="http://www.langittimur.com/">Arif</a>, dan sahabat blogger lainnya, kami doakan semoga kalian senantiasa dalam keadaan baik-baik saja&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai informasi ilmiah tentang gempa Sumbar ini, silahkan lihat di blognya <strong><a href="http://rovicky.wordpress.com/2009/10/01/gempa-padang-30-september-2009-jangan-tunggu-laporan/">Pakdhe Rovicky</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/10/01/sumbar-dan-yogya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>apes</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/04/11/apes/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/04/11/apes/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 00:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[apes]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[ring road]]></category>
		<category><![CDATA[tabrak lari]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali kita berniat baik, tapi dianggap bersalah oleh orang lain. Atau sebuah kesalahan ditimpakan kepada kita, padahal kita tidak melakukan sama sekali, hanya gara-gara kita berada di tempat tersebut dan orang yang bersalah kabur dari tempat itu. Sebagai contoh, apa yang disebutkan Mas Goenoeng Moelyo di status facebook-nya: &#8220;hhh&#8230; gara2 anak muda ugal2an, aku jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F04%2F11%2Fapes%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Seringkali kita berniat baik, tapi dianggap bersalah oleh orang lain. Atau sebuah kesalahan ditimpakan kepada kita, padahal kita tidak melakukan sama sekali, hanya gara-gara kita berada di tempat tersebut dan orang yang bersalah kabur dari tempat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh, apa yang disebutkan Mas <a href="http://goenoeng.com/?page_id=7">Goenoeng Moelyo</a> di status facebook-nya:<em> <img src="/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /><span>&#8220;hhh&#8230; gara2 anak muda ugal2an, aku jadi ngganti kerusakan bemper belakang mobil orang. mana habis nyruduk, dia lari lagi. dan sekarang waktunya balas dendam. kucari kau sampai liang semut ! banyumanik nggak seluas yang kau kira&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Aku pernah beberapa kali mengalaminya. Salah satunya adalah ketika aku menolong orang yang mengalami kecelakaan tabrakan sepeda motor di jalan ring road selatan, jalan yang selalu aku lalui setiap hari dari rumah menuju kampusku.<span id="more-545"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Ketika itu, aku hendak ke kampus, karena pagi itu ada jadwal kuliah. Seperti biasa, aku melewati ring road yang merupakan jalan lingkar Yogyakarta. Jalan itu dibagi kepada jalur lambat dan jalur cepat. Sepeda motor diwajibkan melewati jalur lambat itu. Seperti hari-hari sebelumnya, jalan itu kalau pagi hari memang sangat ramai oleh kendaraan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Tidak berapa lama setelah aku melewati perempatan jalan Parang Tritis ke timur, tiba-tiba dari arah belakang melaju sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang pelajar SMA yang membonceng temannya. Aku mengetahui mereka anak SMA karena mereka memakai seragam putih abu-abu. Mereka sepertinya berpacu dengan waktu. Barangkali sudah terlambat ke sekolah. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Entah karena tidak dapat menguasai motornya, anak muda itu tiba-tiba menabrak sepeda motor di depannya, yang kebetulan berada tepat di depanku. Gubrak&#8230;!! Motor yang ditabrak jatuh terjungkal, sedangkan anak muda itu berhasil menguasai sepeda motornya dan tidak ikutan terjatuh. Sialnya, mereka langsung kabur. Tinggallah aku yang tepat berada di depan korban tersebut.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Pengendara motor itu adalah seorang gadis yang membonceng ibunya. Sepertinya mereka akan ke pasar Giwangan untuk berbelanja. Ku simpulkan demikian karena aku melihat keranjang belanjaan yang mereka bawa. Spontan ku parkirkan motor, dan segera ku tolong mereka. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Si gadis terhimpit motornya yang jatuh ke sebelah kiri, sementara ibunya terlempar beberapa meter dari situ. Setelah ku angkat motornya, terlihat luka yang sangat parah pada kaki kiri si gadis, dan kemungkinan dia mengalami patah tulang, terlihat dia sulit sekali berdiri. Sementara ibunya yang terlempar terlihat shok sekali. Luka-lukanya tidak terlalu parah, hanya ada beberapa goresan. Tapi napasnya terlihat sangat sesak, barangkali karena keterkejutan yang luar biasa itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Sekonyong-konyong kuambil air mineral yang selalu ku bawa di ranselku. Dan kuberikan kepada mereka untuk menenangkan diri. Alhamdulillah, air itu sedikit bisa membuat mereka tenang. Kebetulan ada kenalan mereka yang berada di tempat kejadian tersebut dan ikut menolong. Aku minta dia untuk mencarikan taksi guna membawa mereka ke rumah sakit terdekat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Taksipun datang, dan kedua korban sudah berada di dalamnya. Ku minta si Mas kenalan mereka tadi untuk ikut di taksi dan mengantar mereka ke rumah sakit. Sepeda motor mereka ku titipkan di rumah warga yang ada di dekat tempat kejadian. Ketika semua sudah beres dan taksi siap berangkat, tiba-tiba si Mas tadi keluar dan berkata:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span>&#8220;Mas, njenengan kok gak ikut?&#8221;<br />
&#8220;Maaf mas, gak bisa, saya sudah telat nih&#8221;<br />
&#8220;Lho, njenengan kan harus bertanggungjawab&#8221;<br />
&#8220;Tanggungjawab? Emangnya saya ngapain Mas?&#8221;<br />
&#8220;Kan njenengan yang nabrak?&#8221;<br />
&#8220;Oalah Mas, saya hanya mbantu, yang nabrak itu anak SMA, dia udah kabur. Kebetulan kejadian itu ada di depan saya, ya saya spontan mbantu&#8221;<br />
&#8220;Yang benar Mas?&#8221;<br />
&#8220;Kalau gak percaya, tanya aja sama mbak-nya&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Si Mas itupun menanyakan kejadian yang sesungguhnya kepada si gadis dan ibunya. Terlihat mereka terlibat pembicaraan yang agak serius. Beberapa saat kemudian si Mas itupun mendatangiku lagi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span>&#8220;Ya udah mas kalau gitu, terima kasih ya&#8230; Maaf saya sudah salah sangka&#8221;<br />
&#8220;Ya, tidak apa-apa. Maaf, saya tidak bisa nganter, soalnya saya ada jadwal kuliah, dan ini sudah telat&#8221;, </span></em><span>kataku sambil menyerahkan kunci motor mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Untung saja aku bisa menjelaskan dan meyakinkan mereka akan kejadian yang sesungguhnya. Kalau tidak, bisa-bisa aku akan menanggung beban kesalahan yang tidak pernah aku lakukan. Dan bahkan perbuatan baikku akan dibalas dengan keburukan. Kalau itu sempat terjadi, alangkah apes-nya diriku&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/04/11/apes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belum bisa ngaji?</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/09/05/iqro/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/09/05/iqro/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 02:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[aksara]]></category>
		<category><![CDATA[alquran]]></category>
		<category><![CDATA[buta]]></category>
		<category><![CDATA[iqro']]></category>
		<category><![CDATA[kotagede]]></category>
		<category><![CDATA[krapyak]]></category>
		<category><![CDATA[qiro'ati]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Mbak Sri dengan terbata-bata mencoba mengeja satu persatu huruf-huruf Arab yang ada dalam buku Iqro&#8217; jilid satu yang ada di hadapannya. Sementara itu, Mbak Indri dan Mbak Nita menyimak dengan serius. Sesekali terdengar suara istriku membetulkan bacaan mbak Sri. Di tengah keasyikan mereka itu, tiba-tiba Mbak Rukmini datang, dan segera ikut bergabung. Keempat ibu-ibu itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F09%2F05%2Fiqro%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Mbak Sri dengan terbata-bata mencoba mengeja satu persatu huruf-huruf Arab yang ada dalam buku Iqro&#8217; jilid satu yang ada di hadapannya. Sementara itu, Mbak Indri dan Mbak Nita menyimak dengan serius. Sesekali terdengar suara istriku membetulkan bacaan mbak Sri. Di tengah keasyikan mereka itu, tiba-tiba Mbak Rukmini datang, dan segera ikut bergabung.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat ibu-ibu itu adalah tetangga kiri kananku. Sejak awal Ramadhan, setiap habis Subuh, mereka belajar membaca aksara Al-Quran bersama istriku. Ya, mereka adalah ibu-ibu yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur&#8217;an.<span id="more-169"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan ini diawali dari obrolan istriku dengan mbak Rukmini yang sehari-hari membantu pekerjaan istriku di rumah. Mbak Ruk mengeluhkan soal ketidakmampuannya dalam membaca Al-Quran. Penyebabnya sangat klise, dulu semasa kanak-kanak, sehabis pulang sekolah dia harus membantu pekerjaan orangtuanya, sehingga tidak ada waktu untuk belajar membaca Al-Quran. Dan, dari pengakuannya, ternyata hampir separuh dari ibu-ibu dan bapak-bapak tetanggaku adalah orang-orang yang buta aksara Al-Quran.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataan ini membuat kami pritahin sekaligus tidak percaya. Jogja, sebagai kota pelajar yang menjadi barometer pendidikan Indonesia, rasanya mustahil kejadian ini akan terjadi. Ditambah dengan kenyataan bahwa <a href="http://anaksholeh.com/index.php">metode Iqro&#8217;</a> digagas dari kota ini, yakni di Kotagede dan metode <a href="http://pustakamawar.wordpress.com/2007/07/26/mengapa-harus-qiroati/">Qiro&#8217;ati</a> berpusat di <a href="http://sachrony.wordpress.com/2008/03/13/khmoenawir-ahli-quran-pendiri-pon-pes-krapyak-jogjakarta/">Pesantren Krapyak</a>, membuat kondisi ini semestinya tidak harus terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi&#8230; inilah kenyataannya, sebagian besar orangtua di lingkunganku buta aksara Al-Quran. Bukan tidak mungkin hal ini juga akan terjadi kepada anak-anak mereka. Sebab, sehari-hari kuperhatikan, sedikit sekali dari anak-anak itu yang mengikuti kegiatan di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) sepulang mereka dari sekolah. Bukannya tidak ada fasilitas itu di dekat rumah kami, tapi sepertinya para orangtua tersebut tidak begitu peduli dengan hal ini. Mereka lebih membiarkan anak-anak tersebut bermain ketimbang berangkat TPA. Menyedihkan sekali!</p>
<p style="text-align:justify;">Istriku tergerak hati untuk berbuat sesuatu bagi para ibu-ibu tersebut. Maka, mulailah dia memprovokasi mbak Ruk untuk mengajak beberapa temannya belajar ngaji di rumah kami. Ahirnya, terwujudlah kelompok kecil ini. Aku bersyukur, istriku bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, meski baru sedikit.</p>
<p style="text-align:justify;">Harapan kami, agar kelompok kecil ini terus menggelinding bagaikan bola salju. Sehingga nantinya, semakin banyak orangtua yang buta aksara Al-Quran secara sadar menyempatkan diri untuk kembali belajar. Bukankah tidak ada kata terlambat untuk itu? Semoga&#8230;</p>
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border:none;background:transparent;" src="http://signatures.mylivesignature.com/54486/280/9DF7C88CB6AC231ABE4DB1E046019027.png" alt="" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/09/05/iqro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tour de Jateng: Hospitality di Pesantren</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/04/30/hospitality-di-pesantren/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/04/30/hospitality-di-pesantren/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 04:25:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[bp das]]></category>
		<category><![CDATA[go green]]></category>
		<category><![CDATA[gontor]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[keramahan]]></category>
		<category><![CDATA[penghijauan]]></category>
		<category><![CDATA[tamu]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, kelar juga perjalananku keliling Jawa Tengah. tadi malam (29/04/08), pukul 22.00 wib, aku kembali menginjakkan kaki di bumi Jogjakarta. perjalananku kali ini dalam rangka mensosialisasikan acara Gontor Go Green ke pondok-pondok alumni yang ada di Jawa Tengah dan koordinasi dengan pihak BP DAS (Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai) se Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F04%2F30%2Fhospitality-di-pesantren%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, kelar juga perjalananku keliling Jawa Tengah. tadi malam (29/04/08), pukul 22.00 wib, aku kembali menginjakkan kaki di bumi J<span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">ogjakarta</span>. perjalananku kali ini dalam rangka mensosialisasikan acara Gontor Go Green ke pondok-pondok alumni yang ada di Jawa Tengah dan koordinasi dengan pihak <a href="http://www.dephut.go.id/">BP DAS </a>(Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai) se Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.<span id="more-64"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika sahabatku <a href="http://manjaddawajada.wordpress.com">Akbar</a> menawari diriku untuk terlibat dalam kegiatan ini, langsung kusambut dengan senang hati. Pikirku, kapan lagi bisa berpetualang ala <em>backpacker</em> seperti yang pernah ku jalani waktu di pondok dulu setiap liburan pertengahan tahun. Secara, sekarang ini diriku sudah memiliki buntut empat, tentu untuk bepergian seperti itu perlu alasan yang sangat tepat. kalau sekedar plesiran, tentulah protes besar-besaran akan bermunculan dari mulut-mulut mungil serdadu-serdaduku.. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Dalam daftar yang kuterima, ada 26 pesantren se Jawa Tengah dan Yogyakarta yg mesti kukunjungi. Awalnya kupikir ini bakal mudah, karena dalam bayanganku berapalah besarnya Jawa Tengah, paling-paling dalam tiga hari perjalanan semuanya akan tuntas. Bayangan sulitnya perjalanan di Sumatera membuatku sedikit meremehkan Jawa Tengah. Tapi ternyata aku salah besar. Medan yg harus kutempuh ternyata baru bisa tuntas setelah 2 minggu. Cukup melelahkan&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dari pengalaman mengunjungi pesantren-pesantren itu, aku akhirnya memiliki tambahan pengetahuan yang luar biasa. Dengan membandingkan antara masing-masing pesantren tersebut ada beberapa poin yang ingin kubagi disini:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Hospitality</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keramahan dan kehangatan dalam menerima tamu tampak sangat mencolok antara satu pesantren dengan pesantren yang lain. Kalau dilakukan peringkatan, maka Gontor VI cabang Magelang, menempati tempat terbawah, alias paling buruk dan Pondok Pesantren Assalam Temanggung mendapat peringkat tertinggi, diikuti Pondok Pesantren At Tauhid al Islamy di Magelang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kami memasuki areal Gontor VI, kami mendapatkan 2 orang santri berpakaian pramuka yg menjadi piket jaga. Sikap mereka sama sekali tidak ramah. Bahkan kamipun sengaja menghentikan mobil <em>pickup</em> bermuatan 2.600 batang bibit mete yg kami bawa di depan mereka. Sedikitpun mereka tidak bergerak untuk bertanya, ada urusan apa kami datang. Ketika kubilang mau bertemu dengan Pengasuh Pondok, mereka hanya menjawab singkat, &#8220;sedang keluar&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan sedikit kesal, akupun menghentikan seorang ustadz yang lagi berjalan melewati kami. Dan memintanya untuk menyuruh santri-santrinya buat menurunkan tanaman-tanaman tersebut. Singkat cerita, tanaman itupun sudah berpindah dari mobil pickup ke atas tanah Gontor VI. Dan yang lebih parahnya lagi, ustadz yg menerima kami tadi, sama sekali tidak menawarkan kami buat mampir dulu ke kantor atau ke ruangan manalah buat sekedar melepas lelah. Begitu bibit tanaman selesai diturunkan, si ustadz pun berlalu. aku hanya bisa tersenyum kecut. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi ini bertolak belakang dengan di PP. Assalam Temanggung. Sesampainya di lokasi, mobil kami parkir di luar pagar pondok, karena gerbangnya tertutup rapat. Ketika kami memasuki pintu pagar tersebut, secara spontan, santri-santri yang kebetulan lewat dekat kami langsung menyalami kami satu persatu sambil bertanya: &#8220;<em>Mau ketemu siapa Pak</em>?&#8221; Wah&#8230; sambutan yang luar biasa! Kami kira hanya kepada kami sikap itu ditunjukkan, ternyata tidak. Kepada setiap tamu yang datang setelah kami, merekapun bersikap yang sama. Sebuah keadaan yang kontras sekali dengan di Gontor VI bukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Lain lagi dengan di PP. At Tauhid al Islamy yang berlokasi di kaki gunung Merapi. Setelah pesan yang kami sampaikan dipahami oleh Pak Kyai-nya, kamipun berpamitan. Tapi, Pak Kyai langsung berkata: &#8220;<em>al-ghaza awwalan</em>!&#8221; (makan siang dulu), dan beliaupun mengutip perkataan almarhum Pak Zar, pendiri Gontor: &#8220;<em>Daripada masuk angin, lebih baik masuk nasi, walau seadanya</em>&#8220;. Dengan menu ketulusan dan kehangatan itu, makanan seadanya itu menjadi sangat nikmat, ditambah dengan suasana sejuk pegunungan, membuat kami ingin berlama-lama di situ. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, kamipun segera pamit..</p>
<p style="text-align:justify;">Kejadian ini memberi gambaran kepadaku bagaimana didikan yang diberikan di masing-masing Pesantren tersebut tentang kehangatan penyambutan tamu. Sikap santri tadi tentulah menunjukkan secara tidak langsung bagaimana sikap para pengasuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>berikutnya: <a href="http://surauinyiak.wordpress.com/2008/05/07/tour-de-jateng-green-and-clean/">Green and Clean</a><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/04/30/hospitality-di-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan Lebaran di Kaliurang</title>
		<link>http://hardivizon.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 05:20:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[binatang]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[kaliurang]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[monyet]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/</guid>
		<description><![CDATA[Hari lebaran kedua, Sabtu 13/10/07, kami berwisata ke Kaliurang di kaki Gunung Merapi. Si Abang, anak sulungku, sempat berseloroh, “Kita ngapain ke Kaliurang Pa? Mau ketemu mBah Maridjan ya?” Aku tertawa habis mendengar pertanyaannya itu. Ada-ada aja tu anak. Tapi, pertanyaan itu tidak menjadi lucu bagi putriku. Si Uni yang satu ini menatap bengong kepadaku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2007%2F10%2F18%2Flebaranliburan-kaliurang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p><a rel="attachment wp-att-43" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/43/" title="lbrn-xurg-37psd.jpg"></a></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><a rel="attachment wp-att-42" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/42/" title="unjut-ajib-abang_resize.jpg"><img align="left" width="284" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2007/10/unjut-ajib-abang_resize.jpg" alt="unjut-ajib-abang_resize.jpg" height="291" style="width:154px;height:148px;" /></a>Hari lebaran kedua, Sabtu 13/10/07, kami berwisata ke <a href="http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/places-of-interest/kaliurang/">Kaliurang di kaki Gunung Merapi</a>. Si Abang, anak sulungku, sempat berseloroh, “Kita ngapain ke Kaliurang Pa? Mau ketemu mBah Maridjan ya?” Aku tertawa habis mendengar pertanyaannya itu. Ada-ada aja tu anak. Tapi, pertanyaan itu tidak menjadi lucu bagi putriku. Si Uni yang satu ini menatap bengong kepadaku, menunggu jawaban. Cepat aku sadari kondisi ini. Akupun memberi jawaban untuknya.</p>
<p><span id="more-40"></span></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">“Nak, Kaliurang itu adalah taman besa<a rel="attachment wp-att-45" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/45/" title="lbrn-xurg-77_resize.jpg"></a>r ciptaan Allah. Nanti Uni bisa lihat banyak pohon dan bunga-bunga cantik. Uni kan suka bunga, nah…nanti bisa lihat macam-macam bunga di situ”.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">“Boleh Uni bawa pulang gak Pa?” balasnya.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">“Boleh, tapi bukan yang ditanam di taman, tapi yang dijual di toko bunga dekat situ ya?’ jawabku.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Si Uni mengangguk tanda mengerti. Aku tersenyum bahagia.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Sesampainya di kawasan wisata Kaliurang, kami beristirahat dulu di taman bermain anak-anak untuk makan siang. Anak-anakku terlihat gembira. Sehabis makan, mereka bermain sepuasnya, berlari kian kemari sambil menikmati segarnya udara di kaki gunung Merapi itu.<a rel="attachment wp-att-43" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/43/" title="lbrn-xurg-37psd.jpg"><img align="right" width="356" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2007/10/lbrn-xurg-37psd.jpg" alt="lbrn-xurg-37psd.jpg" height="227" style="width:189px;height:128px;" /></a></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Setelah puas bermain, kami lanjutkan ke hutan lindung Kaliurang. Ekspresi mengejutkan keluar dari mulut anak ketigaku, Nazhif. Begitu memasuki hutan tersebut, spontan dia berteriak dengan lidah cadelnya, “Hmmm, haluumm….” (hmm, harum). Kata-kata tersebut dilontarkannya untuk mengekspresikan kesukaannya dengan aroma hutan yang merupakan perpaduan dari aroma pepohonan, rumput, air dan bunga-bunga yang ada di situ. Rupanya si Uda yang satu ini sudah mulai menunjukkan kesukaannya terhadap alam. Mudah-mudahan kami bisa menjaga kesukaannya ini.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><a rel="attachment wp-att-44" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/44/" title="syawalan-53_resize.jpg"></a>Lain lagi dengan si bungsu Fatih. Dia benar-benar menyukai binatang. Sebetulnya hal ini sudah lama kami sadari. Buku-buku yang diminatinya adalah yang ada gambar binatangnya, bukan itu saja, bila dia melihat binatang, dia ingin sekali menangkapnya. Kucing contohnya, meski sudah sering dia dicakar karena menarik-narik buntutnya, tapi dia tetap saja melakukannya lagi. Nah, kali ini dia kembali menunjukkan bakatnya itu. Kera-kera liar yang berkeliaran di hutan tersebut membuatnya gembira sekali. Sedikitpun dia tidak menunjukkan ketakutannya terhadap binatang-binatang itu. Padahal, ketiga kakaknya berusaha menghindar, lebih karena takut, bukan karena geli.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Dengan kosakatanya yang masih terbatas, dia berkata kepadaku: “Pa, nyet na diwak ya” (Pa, monyetnya dibawa ya).</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Lalu ku jawab, “Kalau dibawa, nanti monyetnya bobok dimana? Nanti dia ndak ketemu Papa Mamanya, Fatih ndak kasian?”</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Dia pun mengangguk sambil berkata, “Iya, cian…” (iya, kasian)</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Dalam hati aku bersyukur, ternyata anakku tidak hanya menyukai binatang-binatang itu, tapi juga menaruh perhatian besar terhadap mereka. Sekali lagi aku berharap, semoga kami dapat menjaga kesukaannya.<a rel="attachment wp-att-45" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/45/" title="lbrn-xurg-77_resize.jpg"></a></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Pukul 16.00, kawasan hutan lindung ditutup. Kamipun keluar dari situ, tapi masih melanjutkan bermain-main di taman. Lelah bermain, akhirnya kamipun pulang dengan penuh kegembiraan. Letih tapi bahagia… <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2007/10/18/lebaranliburan-kaliurang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan Lebaran di Monjali</title>
		<link>http://hardivizon.com/2007/10/18/lebaranliburan-monjali/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2007/10/18/lebaranliburan-monjali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 04:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[monjali]]></category>
		<category><![CDATA[silaturrahmi]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-monjali/</guid>
		<description><![CDATA[  Seharusnya, lebaran adalah saat yang tepat buat berkunjung ke rumah sanak saudara dan teman-teman. Tapi, hal tersebut tidak dapat kulakukan sepenuhnya saat ini. Karena keberadaanku di perantauan dan tidak memiliki sanak keluarga, maka silaturrahmi dengan mereka cukup lewat telepon dan sms. Hebat juga teknologi yang satu ini. Meski tidak bertatap muka, silaturrahmi tetap dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2007%2F10%2F18%2Flebaranliburan-monjali%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="margin-bottom:0;"> <a rel="attachment wp-att-37" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-monjali/37/" title="lebaran-di-monjali-10psd.jpg"><img align="left" width="551" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2007/10/lebaran-di-monjali-10psd.jpg" alt="lebaran-di-monjali-10psd.jpg" height="1134" style="width:124px;height:129px;" /></a></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Seharusnya, lebaran adalah saat yang tepat buat berkunjung ke rumah sanak saudara dan teman-teman. Tapi, hal tersebut tidak dapat kulakukan sepenuhnya saat ini. Karena keberadaanku di perantauan dan tidak memiliki sanak keluarga, maka silaturrahmi dengan mereka cukup lewat telepon dan sms. Hebat juga teknologi yang satu ini. Meski tidak bertatap muka, silaturrahmi tetap dapat dilakukan dan esensi bermaafanpun dapat terjadi. Aku merasakannya!<span id="more-36"></span></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Karena tidak ada yang bakal dikunjungi, maka kuputuskan untuk mengajak keluargaku jalan-jalan saja. Setelah berembug, akhirnya kami memutuskan untuk berwisata ke Monumen Jogja Kembali (Monjali) dan Kaliurang. Maunya sih ke tempat yang lebih seru dan jauh, tapi karena anggaran terbatas, pilihannya cukup dalam kota Jogjakarta saja… <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Hari pertama, Jum’at 12/10/07, kami berwisata ke Monjali. Kami berangkat setelah shalat Jum’at.</p>
<p align="justify"><span><a href="http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/museum-and-monument/monjali/">Monumen yang terletak di Dusun Jongkang</a>, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis. Titik imajiner pada bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera.</span></p>
<p align="justify"><span>Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.</span></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Kebetulan saat ini sedang ada even special liburan dengan tajuk karnaval keluarga. Ada banyak permainan seru, seperti jetcoster, balon udara, flyingfox, dan berbagai permainan seru lainnya. Kami sekeluarga larut dalam kegembiraan. Senang rasanya, melihat anak-anak tertawa lepas bahagia.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Afif, putra pertamaku, bersama adik bungsuku Evan, mencoba keberanian mereka melayang menggunakan flyingfox. Awalnya sih, agak takut-takut, tapi begitu dicoba, kayaknya mereka ketagihan.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Lucunya, istriku, dia ingin sekali merasakan naik balon udara. Ingin menyaksikan Jogja dari ketinggian, gitu katanya. Dengan penuh percaya diri, dia mengajakku beli tiket dan ikutan antri untuk naik balon udara besar tersebut. Sembari menunggu dalam antrian, dia menyaksikan bagaimana cara kerja balon udara itu. Ternyata, angin sore itu bertiup lumayan kencang. Balon udara besar itu, meski sudah diikat di keempat sisinya, tetap saja melayang-layang kian kemari dimainkan angin. Hal ini menciutkan nyali istriku. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan naik balon udara itu, takut katanya&#8230; hihihi&#8230;.<a rel="attachment wp-att-39" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-monjali/39/" title="lebaran-di-monjali-2.jpg"></a><a rel="attachment wp-att-38" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/lebaranliburan-monjali/38/" title="lebaran-di-monjali-2.jpg"></a></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Setelah puas menikmati aneka permainan dan suasana malam di arena monumen tersebut, kamipun pulang. Di perjalanan, masing-masing larut dalam keheningan, larut dengan kesan masing-masing di hatinya. Tapi, aku kurang yakin, kalau anak-anakku larut dalam kesan mendalam, paling-paling mereka kecapean. Buktinya, semuanya ketiduran sepanjang perjalanan&#8230;. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2007/10/18/lebaranliburan-monjali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syawalan; bukti Pluralisme</title>
		<link>http://hardivizon.com/2007/10/18/syawalan/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2007/10/18/syawalan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 04:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[bantul]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[persaudaraan]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[silaturrahmi]]></category>
		<category><![CDATA[syawalan]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/syawalan/</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi tradisi masyarakat Jogja yang aku suka adalah syawalan. Yakni, sebuah kegiatan dimana seluruh warga kampung, dari yang paling muda sampai yang paling tua, berkumpul di suatu tempat guna saling memaafkan dengan cara saling bersalaman. Kegiatan ini dilaksanakan tidak berapa lama setelah bubaran dari melaksanakan shalat ied di lapangan. Kali ini, di kampungku, syawalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2007%2F10%2F18%2Fsyawalan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Satu lagi tradisi masyarakat Jogja yang aku suka adalah syawalan. Yakni, sebuah kegiatan dimana seluruh warga kampung, dari yang paling muda sampai yang paling tua, berkumpul di suatu tempat guna saling memaafkan dengan cara saling bersalaman. Kegiatan ini dilaksanakan tidak berapa lama setelah bubaran dari melaksanakan shalat ied di lapangan.<span id="more-34"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><a rel="attachment wp-att-35" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/syawalan/35/" title="syawalan.jpg"><img width="1152" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2007/10/syawalan.jpg" alt="syawalan.jpg" height="295" style="width:454px;height:99px;" /></a></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Kali ini, di kampungku, syawalan diadakan di halaman salah satu warga yang cukup luas. Setelah seluruh warga berkumpul, seorang tokoh masyarakat memberikan sambutan dalam bahasa Jawa. Sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang disampaikannya, tapi inti yang dibicarakannya aku bisa tangkap, bahwa idul fitri adalah momen yang tepat untuk kembali menyambung tali silaturrahmi dan melebur semua dosa akibat tali silaturrahmi yang terputus.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Acara ditutup dengan bersalam-salaman. Dengan berbaris bersaf, satu persatu warga saling bersalaman, sambung menyambung. Cukup seru dan mengharukan. Semua lebur jadi satu. Tidak ada batasan antara tua dan muda, kaya dan miskin. Semua benar-benar cair. Aura keikhlasan sangat terasa disini. Ternyata salaman adalah terapi yang sangat efektif untuk menghapus hasad dan dengki. Nabi Muhammad berkata: “<em>Bersalamanlah, akan hilang kedengkian dari dirimu</em>”. Syawalan ini membuktikannya.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Ada satu hal yang menarik bagiku dari kegiatan ini. Ternyata, yang hadir tidak hanya warga yang beragama Islam saja. Para tetangga kami yang non muslim pun ikut berbaur dalam kegembiraan tersebut, semuanya… Luar biasa! Rupanya, toleransi antara umat beragama sudah lama ada dalam masyarakat kita. Mereka bukanlah orang-orang yang mengerti soal pluralisme, multikulturalisme atau apapun istilahnya. Mereka melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa sesama manusia harus saling memahami dan menghormati. Itu terlihat dengan jelas dari ekspresi keikhlasan mereka saling berjabat tangan erat, bahkan berpelukan… <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Aku curiga, jangan-jangan pembahasan berkepanjangan soal pluralisme hanyalah wacana mubazir di tingkat akademisi dan politisi. Karena, fakta di masyarakat awam, paling tidak di kampungku, keberagaman agama bukanlah persoalan krusial bagi mereka. Dan itu sangat terlihat dengan jelas dalam keseharian mereka. Bahkan, tidak sedikit keluarga harmonis yang terdiri dari anggota dengan agama yang berbeda… Entahlah!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2007/10/18/syawalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takbiran; Festival Kreatifitas</title>
		<link>http://hardivizon.com/2007/10/16/takbiran/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2007/10/16/takbiran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 06:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[malioboro]]></category>
		<category><![CDATA[takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu alasan saya memilih Jogjakarta sebagai tempat studi adalah kreatifitas warganya yang cukup tinggi.  Saya suka dengan orang-orang kreatif, karena akan banyak memberi inspirasi bagi saya. Banyak kerajinan berkelas yang dibuat dari benda remeh temeh oleh orang-orang Jogja. Jalan saja ke Malioboro. Sepanjang 2 km jalan itu, di kedua sisi jalannya banyak sekali pedagang kaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2007%2F10%2F16%2Ftakbiran%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p align="justify"><a rel="attachment wp-att-30" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/30/" title="lomba-takbir-1428-2.jpg"></a><a rel="attachment wp-att-29" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/29/" title="lomba-takbir-1428-1.jpg"></a>Salah satu alasan saya memilih Jogjakarta sebagai tempat studi adalah kreatifitas warganya yang cukup tinggi.  Saya suka dengan orang-orang kreatif, karena akan banyak memberi inspirasi bagi saya.<span id="more-27"></span></p>
<p align="justify">Banyak kerajinan berkelas yang dibuat dari benda remeh temeh oleh orang-orang Jogja. Jalan <a rel="attachment wp-att-29" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/29/" title="lomba-takbir-1428-1.jpg"></a>saja ke Malioboro. Sepanjang 2 km jalan itu, di kedua sisi jalannya banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan hasil kreatifitas ini. Mulai dari aksesoris buat perhiasan sampai kepada lukisan berkelas. Semuanya menjanjikan wisata belanja nan eksotis, tentunya dengan harga yang tidak bakalan merobek kantong! <strike><em>kalau pandai menawar</em></strike></p>
<p><a rel="attachment wp-att-29" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/29/" title="lomba-takbir-1428-1.jpg"></a><a rel="attachment wp-att-30" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/30/" title="lomba-takbir-1428-2.jpg"></a></p>
<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-29" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/29/" title="lomba-takbir-1428-1.jpg"></a><a rel="attachment wp-att-30" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/30/" title="lomba-takbir-1428-2.jpg"></a></p>
<p align="center"><a rel="attachment wp-att-30" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/30/" title="lomba-takbir-1428-2.jpg"><img src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2007/10/lomba-takbir-1428-2.jpg" alt="lomba-takbir-1428-2.jpg" /></a> </p>
<p align="justify">Dalam rangka menyambut Idul Fitri, ada satu lagi kreatifitas warga Jogja yang membuat saya benar-benar takjub. Yaitu lomba takbiran keliling antar kampung. Takjub? Tentu, karena di kampung saya Riau maupun Sumatera Barat, tidak pernah diadakan kegiatan seperti ini. Takbiran paling-paling dilakukan dengan berkeliling menggunakan kendaraan di seputar kota. Sementara yang dilakukan warga Jogja adalah perlombaan yang memacu kreatifitas. Karena yang dinilai adalah kekompakan dalam hal lantunan takbiran, musik pengiring, kostum, maskot dan display pasukan.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-28" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/28/" title="lomba-takbir.jpg"></a><a rel="attachment wp-att-31" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/31/" title="lomba-takbir.jpg"><img align="left" width="394" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2007/10/lomba-takbir.jpg" alt="lomba-takbir.jpg" height="295" style="width:186px;height:113px;" /></a></p>
<p align="justify">Untuk lomba kali ini, kampung saya, dusun Kweni Rt. 03 Bantul, mengangkat tema Islam China, sebagai implementasi dari hadis &#8220;<em>Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China</em>&#8220;. Saya benar-benar salut dengan kreatifitas dan kekompakan para pemuda kampung saya ini. Mulai dari merancang maskot masjid ala China, kostum dan peralatan lainnya. Saya mencoba terlibat aktif di sini. Di samping ingin lebih akrab dengan para pemuda, juga ingin merasakan prosesnya secara langsung, siapa tahu nanti bisa saya tularkan di kampung halaman&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Hari yang ditunggu pun tiba. Kamis, 11 Oktober 2007, setelah shalat Isya, lomba pun dimulai. Peserta untuk dusun Kweni ada 7 pasukan. Masing-masing mewakili RT nya. Ya, di dusun kami ada 7 RT.</p>
<p align="justify">Kreatifitas masing-masing peserta bagiku sangat luar biasa. Ada yang mengusung tema <a href="http://hardivizon.multiply.com/photos/album/5/Lomba_Takbiran_1428H">pasukan gajah yang dikalahkan burung ababil, tentara romawi, china</a>, dan lain sebagainya. Semuanya benar-benar menunjukkan kreatifitas dan kekompakan tinggi.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-32" href="http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/16/takbiran/32/" title="lomba-takbir-6.jpg"><img border="0" align="right" width="344" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2007/10/lomba-takbir-6.jpg" alt="lomba-takbir-6.jpg" height="339" style="width:172px;height:124px;" /></a></p>
<p align="justify">Lomba dimulai dengan berkeliling kampung dan ditutup dengan display pasukan di halaman SD Jarakan II yang terletak berseberangan dengan masjid An-Najwa Kweni. Tampak sekali masing-masing pasukan berusaha menampilkan yang terbaik dari mereka. Sambil meneriakkan syair takbir yang diiringi musik buatan mereka sendiri, mereka bergerak dengan lincah dan kompak, membentuk berbagai formasi. Sungguh, ini luar biasa bagi saya&#8230;!!</p>
<p align="justify">Yang  perlu dicatat bahwa ini semua dilakukan oleh pemuda kampung!</p>
<p align="justify">Saya percaya, bahwa pemuda, bila diberi kesempatan dan kepercayaan buat mengekspresikan diri, mereka akan melakukannya dengan baik dan semaksimal mungkin. Dan kampung saya, dusun Kweni Bantul, membuktikan itu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2007/10/16/takbiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
